Minim Data Pengaruhi Kualitas Lulusan Statistika

Dikutip dari : Harian Seputar Indonesia, 22 Mei 2012

Press Conference IPB & SAS . SR2012

Sejalan dengan era globalisasi, perusahaan membutuhkan sumber daya yang bernilai kompetensi. Namun, universitas dinilai belum mampu menjawab tantangan tersebut. Akibatnya, terjadi gap antara jumlah pekerjaan dan lulusan.

Menurut data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, hingga tahun 2010 terdapat 3.098 universitas di seluruh Indonesia. Dan, sebanyak 655.012 lulusan dari perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, mengacu pada data dari Kementerian Pendidikan Nasional. Sementara itu, data dari Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan jumlah pengangguran dari lulusan sarjana dan diploma adalah 208.937 dengan usia 20- 24 tahun.

Adapun sebanyak 416.788 untuk usia 25-29 tahun. Apa artinya ini? Data tersebut menunjukkan terdapat kesenjangan yang cukup besar antara jumlah pekerjaan dan lulusan. “Padahal, keadaan saat ini tengah berada di era persaingan bisnis pada level kompetisi dan bukan lagi efisiensi. Kompetisi hanya dapat dimenangkan dengan menguasai keahlian business analytics,” kata Erwin Sukiato, Country Manager SAS Indonesia.

Dengan demikian, perusahaan dewasa ini haus akan sumber daya analis yang profesional. Namun, perguruan tinggi tampaknya belum dapat melepas dahaga para stake holder-nya jika melihat kualitas sarjana statistika. Seperti disinggung Asep Saefuddin, dosen senior Departemen Statistika Institut Pertanian Bogor. “Lulusan statistika di Indonesia terlalu kuat di edukasi, namun lemah dalam aplikasi data real.

Misalnya data dari perbankan atau departemen statistika,” kata Asep di sela-sela acara konferensi pers SAS Academic Program di World Trade Center (WTC) Jakarta, belum lama ini. Asep menuturkan, masalah tersebut karena tidak tersedianya data memadai yang dapat digunakan mahasiswa untuk kepentingan penelitian. Sebenarnya dalam hal ini universitas sebagai pencetak lulusan statistika juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya.

Persoalannya, data-data milik perusahaan yang sekiranya dapat dianalisis mahasiswa sebagai bahan pembelajaran, acap kali tidak diberikan perusahaan maupun instansi. Alhasil, mahasiswa harus puas hanya dengan belajar dari simulasi. Padahal, jika kebutuhan akan data ini terpenuhi, mahasiswa dapat menerapkan ilmunya secara lebih nyata.

Asep menambahkan, seharusnya mahasiswa mulai tingkat tiga sudah bisa masuk ke isu-isu real, seperti perbankan, perilaku pindah bank, dan sebagainya. Berbeda dengan negara tetangga Singapura. Di Negeri Singa itu, mahasiswa tingkat dua saja telah mempelajari isuisu perbankan dan kurikulum dirancang sedemikian rupa agar kelak dapat menjawab kebutuhan perusahaan sehingga tidak jarang mahasiswa yang belum lulus sudah ditarik untuk bekerja.

Berbanding terbalik dengan di Indonesia, terdapat kesenjangan yang cukup besar antara lulusan dengan penyerapannya sebagai tenaga kerja. Sebab, ketika lulus mereka harus kembali belajar dari awal, bahkan tidak sedikit yang akhirnya banting setir beralih ke bidang lain. Sebut saja lulusan analisis pertanian yang karena tidak mendapat pekerjaan yang memadai dan kebutuhan data yang sulit, akhirnya lari ke perbankan atau perusahaan lain.

“Hal ini sangat disayangkan mengingat potensi mahasiswa yang sebenarnya amat besar dalam pertanian, malah menjadi tidak terpakai. Akibatnya, pertanian Indonesia menjadi tidak terurus akibat tidak ada perubahan dan pembaharuan,” ujar Asep. Pekerjaan bagi lulusan statistika sendiri sangat luas karena hampir setiap perusahaan memerlukan lulusan ini untuk berbagai hal yang terkait dengan pengolahan data.

Beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan adalah survei pasar, survei kepuasan pelanggan, dan lain-lain, termasuk aspek analisis ekonomi makro, seperti tingkat inflasi maupun tingkat pertumbuhan ekonomi.

Oleh karenanya, peluang kerja untuk lulusan statistika sangat lapang, mencakup perusahaan swasta, instansi pemerintah (Badan Pusat Statistik, bagian data dan informasi), konsultan, serta lembaga swadaya masyarakat. Dengan begitu, prospek kariernya pun terbilang menjanjikan. sri noviarni

 

Sumber : Harian Seputar Indonesia

#DBCGSBIPB . dbcgsbipb.wordpress.com

Advertisements

Prospek Kerja Lulusan Statistika?

Pasti kita sering sekali ditanya orang mengenai lapangan kerja apa nantinya setelah lulus sarjana dari jurusan kuliah kita. Apalagi jurusan yang masih jarang terdengar oleh orang alias masih langka. Gak terkecuali adalah program studiku yaitu STATISTIKA. Seperti pertanyaan; “Itu statistika kalau dah lulus kemana?”, “Nantinya jurusan itu kerja dimana?”, “Lulusan statistika kerjanya pada dimana?”, dan lain sebagainya. Mudah memang bagi kamu yang kuliah di jurusan yang hkhalayak ramai sudah mengerti seperti kedokteran, teknik arsitek, dll. Tapi kalau STATISTIKA masih asing bagi beberapa orang, tentunya untuk pertanyaan-pertanyaan di atas perlu penjelasan lebih lanjut.

Terus, kalau diriku sendiri ditanya seperti itu, jawabanku apa? Mudah sekali… sebab STATISTIKA semua bidang bisa! Yah paling dasar orang-orang pada tau apa itu BPS. Tapi gak cuma itu saja, di perusahaan berbagai bidang membutuhkan statistikawan. Kalau penjelasan mengenai lapangan kerja lulusan statistika berikut aku kutip dari website prodi Statistika Undip.

Prospek kerja sarjana Statistika dapat menempati posisi peneliti, CEO serta staff pada bagian Electronic Data Processing, System Analyst, Quality Control, Planning, Controlling and Production, dll. pada berbagai bidang :
1. Lembaga pemerintahan (Depdagri, Diknas, Depkeu, Dephan dll)
2. Sektor industri/jasa keuangan (perbankan, asuransi, bursa saham, BUMN)
3. Industri strategis (PT. PAL, PT.KAI, PT.PLN, PT.GAS, dll)
4. Bidang industri perangkat lunak dan komputer (perancangan sistem,
programming, desain grafis, dll)
5. Bidang industri penerbitan dan percetakan.
6. Industri telekomunikasi (telematika, Telkom)
7. Industri pengolahan data dan informasi (BPS, LSI, Barometer, LRI, dll)
8. Bidang riset dan pengembangan (LIPI, BATAN, LAPAN, BPPR,
Marketing Riset Informasi, dll)
9. Bidang akademik, sebagai dosen di PTN dan PTS terkemuka.

Tuh kan, pada intinya di semua bidang statistika dibutuhkan….

Eitss, sebelumnya aku mau menjelaskan sesuatu. Perihal lapangan kerja. Apakah selalu lulusan sebuah jurusan pasti akan bekerja di bidang jurusan tersebut? Contohnya aku statistika, apakah aku pasti nanti setelah lulus bekerja di tempat yang sesuai dengan statistika? Jawabannya gak selalu!

Ujung-ujungnya emang takdir, semua di tangan Allah. Tapi juga kita harus berusaha. Banyak juga loh, lulusan sebuah jurusan yang pekerjaannya nanti tidak sejalur dengan bidangnya itu. Sebab apa mau dikata, otak kita juga mempengaruhi. Bakat kita dimana juga kadang menjadi hal yang patut diperhitungkan. Oleh itu skill kita lainnya juga harus diasah.

Sumber : Blogger Arsyil

#DBCGSBIPB . dbcgsbipb.wordpress.com